Senin, 12 Maret 2018



GELANGGANG TINJU JOKOWI
(7 maret 2018)
 
Selamat pagi, dalam pertemuan pertama ini saya ditugaskan untuk mengulik dan menceritakan kembali apa yang telah di diskusikan oleh Najwa Sihab pada acara talk show Mata Najwa yang setiap hari rabu di salah satu media televis swasta Indonesia. Tugas ini untuk memenuhi perkuliahan Sistem Informasi Manajemen semester 4.
Pemilihan presiden  (pilpres) hampir kurang lebih 5 bulan lagi , namun sudah mulai memanas pada akhir akhir ini pak Jokowi lah sebagai dalang untuk mencalonkan kembali sebagai orang nomor satu di negri ini. Bukan tidak ada tantangan dalam hal ini untuk pak Jokowi, melainkan banyak tim rival yang sudah menghadang untuk menjegal langkah pak Jokowi untuk menjadi presiden yang akan datang. Diskusi kali ini meng hadirkan dua kubu, kubu kanan yaitu kubu pemenangan pak Jokowi dalam pilpres mendatang diantara nya pak Moeldoko (kepala staff presiden), pak Komarudin (ketua DPP PDIP perjuangan) dan pak Jhony G Plate (sekjen partai Nasdem) sementara di kubu kiri merupakan tim dari rival pak Jokowi diantaranya pak Ahmad Riza (ketua DPP Gerindra), pak Mardhani (ketua DPP PKS) dan satu ini yang netral terhadap kubu kanan dan kiri namun ditaruh dalam kubu yang sebelah kiri yaitu pak fifa yoga (wakil ketua umum Pan).
Panas nya politik menuju pilpres 2019 menimbulkan banyak kegiatan yang menjelekkan berbagai kubu, masyarakat semakin tidak mengerti antara percaya atau mudah percaya, atau tidak tau menau soal hal politik dan akhirnya mudah dihasut untuk dalam gesekan gesekan seperti ini.  Dalam kali ini yang sering kita lihat dalam berbagai media banyaknya berita yang tidak benar benar terjadi atau bohong, atau yang sering disebut dengan kabar HOAX. Pak Jokowi sendiri sudah benar benar menegaskan jika ada pelanggaran hukum seperti Sarachen, Muslim Cyber Army (MCA) selesaikan kejar tuntas karena itu bisa menyebabkan desentralisasi bangsa, mereka mereka lah yang menyebabkan gesekan di masyarakat  yang pada ujung akhirnya timbul kebencian dan saling bermusuh antara lain kubu. Penangkapan – penangkapan terduga pelaku merupakan orang – orang yang kerap melontarkan kritikan kritikan terhadap pemerintah, ini merupakan sangat bahaya bagi masyarakat luas persoalan jika dibiarkan akan merusak struktur sosial, hati hati dengan keadaan seperti ini, karena masyarakat semua akan kena dampaknya. Kerusakan bangsa harus disikat, ini kerusakan bukan hal yang biasa, bukan hanya tertuju ke pemerintah melainkan kepada bangsa Indonesia.
Dilain pihak sangat setuju dengan Hoax diberi sanksi atau di penjarakan namun sejauh mana pemerintah dan aparat berintegritas menjaga netralitas terhadap hukum dan keadilan. Contoh sederhana ketua MCA tersebut ternyata bukan orang MCA, dia mulai awal adalah pendukung Ahok bahkan bersebrangan dari kawan kawan nya, fakta membuktikan dengan rekam digital informasi sudah tersebar di media. Oleh sebab itu penangkapan hoax harus adil tidak ada tebang pilih dalam penangkapan. Cara pemerintah pak Jokowi di anggap salah atau gagal dalam penegakannya pemerintah gagal dalam fenomena baru banyak suara suara yang penegakanya hanya sikat kejar tuntaskan akan tetapi tidak ada penegakan lain dalam mengatasi fenomena tersebut, Karena dinilai hanya sekedar drama saja dan tidak akan selesai. Akan tetapi ujaran kebencian hoax, MCA tersebut harus benar benar di berantas sampai pada ekor ekor nya tindakan tersebut merupakan keinginan sebuah pihak yang ingin mendegredasikan pemerintahan.
Kontroversial kunjungan parpol ke istana menjadi pembicaraan di masyarakat apakah kegiatan tersebut adalah tindakan kampanye dan pemenangan capres 2019 oleh pak Jokowi. Tentu saja itu merupakan tindakan salah jika iya benar terjadi, karena utuk sekarang adalah bukan masa kampanye dan itu sangat melanggar apalagi kunjungan tersebut dilakukan di Istana kepresidenan. Para pemimpin parpol boleh saja datang ke istana jika duduk bersama membahas tentang sebuah kebersamaan, kerakyatan, kebangsaan, tidak untuk kemanangan atau strategi untuk menang dalam pemilihan capres mendatang. Semua orang boleh saja berkunjung ke istana akan tetapi tidak dalam hal membahas kemenangan dan strategi menang pilpres. Dalam siapa yang berkunjung pernah berkunjung juga rival dari pak Jokowi, pak Prabowo akan tetapi kunjungan tersebut tidak membahas sedikitpun tentang pilpres atau pemilu melainkan hanya sekedar menjalin silaturahmi mempersatukan dua kelompok yang sedang bersebrangan.
Rapor kegiatan pemerintah Jokowi menjadi sorotoan kali ini, kinerja pak Jokowi yang tidak bisa dibantah hari ini bahwa membangun dari desa dan perbatasan. Sehingga desa menjadi maju dan berkembang, yang menjadi gesekan adalah pembangunan jembatan di papua yang tidak memberi instrastuktur melainkan yang terjadi krisis kelaparan di Papua, isu tersebut di bantah karena presiden Jokowi berkeinginan mensejahterakan rakyat papua dengan memberi jalan bagi guru yang ingin memberi pendidikan dan dokter yang ingin mengabdi di tanah Papua. Barometer kepuasan rakyat dengan kinerja pak Jokowi yaitu 60% dan tidak puas 38%, tingkat kepuasan dengan taraf 50% itu merupakan sebuah lampu kuning bagi pemerintah sedangkan ini berada di 60% otomatis dekat dengan 50% taraf baik idealnya bagi penilaian yakni 80% apabila pemerintahan mencapai 80% maka aman untuk mencalonkan kembali pada pilpres mendatang.
Mungkin hanya ini yang bisa saya ulik tentang kesimpulan biar pembaca aja yang menyimpulkan tentang tulisan saya ini terimakasih banyak.

M ainul yaqin 12 maret 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REPUBLIK DIGITAL

Saban akan atau bangun tidur, ponsel sesuatu yang tak bisa lepas untuk dicari. Kebutuhan pekerjaan, komunikasi, membuat status baru untuk ek...